468x60 Ads

Adat Istiadat SOLO


A. ADAT ISTIADAT
Yang dimaksud dengan Adat Istiadat adalah aneka kelaziman dalam suatu negeri yang mengikuti pasang naik dan pasang surut situasi masyarakat. Kelaziman ini pada umumnya menyangkut pengejawatahan unjuk rasa seni budaya masyarakat, seperti acara-acara keramaian anak negeri, seperti pertunjukan randai, saluang, rabab, tari-tarian dan aneka kesenian yang dihubungkan dengan upacara perhelatan perkawinan, pengangkatan penghulu maupun untuk menghormati kedatangan tamu agung.
Adat istiadat semacam ini sangat tergantung pada  situasi sosial ekonomi masyarakat. Bila sedang panen baik biasanya megah meriah, begitu pula bila keadaan sebaliknya. Adat adalah gagasan kebudayaan yang terdiri dari nilai-nilai kebudayaan, norma, kebiasaan, kelembagaan, dan hukum adat yang lazim dilakukan di suatu daerah

1. RUMAH ADAT

Ø  Rumah Tradisional Joglo


Rumah tinggal orang Jawa menjadi lebih sempurna bentuknya dibandingkan pada bentukan sebelumnya. Bentuk sebelumnya sangat sederhana seperti bentuk bangunan “panggangpe”, “kampung” dan “limasan”. Bangunan yang lebih sempurna secara structural adalah bangunan tradisional bentuk “Joglo”. Bangunan ini secara umum mempunyai denah berbentuk bujur sangkar, mempunyai empat buah tiang pokok ditengah peruangannya yang kita sebut sebagai “saka guru’. Saka guru berfungsi untuk menopang blandar “tumpang sari” yang bersusun keatas semakin keatas semakin melebar dan biasanya berjumlah ganjil serta diukir. Ukiran pada tumpang sari ini menandakan status sosial pemiliknya. Untuk mengunci struktur saka guru diberikan “sunduk” yang disebut sebagai “koloran” atau “kendhit”. Letak koloran ini terdapat di bawah tumpang sari yang berfungsi mengunci dan menghubungkan ke empat “saka guru” menjadi satu kesatuan. Tumpang sari berfungsi sebagai tumpuan kayu usuk untuk menahan struktur “brunjung dan molo serta usuk yang memanjang sampai tiang “emper” bangunan Joglo. Dalam perkembangannya. Bangunan Joglo ini memiliki banyak variasi perubahan penambahan-penambahan struktur yang semakin mempercantik Rumah adat ini.
Beberapa variasi bangunan “joglo” ini antara lain :
1. Rumah Adat tradisional Joglo limasan lawakan atau sering disebut “joglo lawakan”
2. Rumah Adat tradisional Joglo Sinom
3. Rumah Adat tradisional Joglo Jompongan
4. Rumah Adat tradisional Joglo Pangrawit
5. Rumah Adat tradisional Joglo Mangkurat
6. Rumah Adat tradisional Joglo Hageng
7. Rumah Adat tradisional Joglo Semar Tinandhu


2. ALAT MUSIK
Ø  Gamelan
Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Istilah gamelan merujuk pada instrumennya / alatnya, yang mana merupakan satu kesatuan utuh yang diwujudkan dan dibunyikan bersama. Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawagamel yang berarti memukul / menabuh, diikuti akhiran an yang menjadikannya kata benda

Gambar gamelan Gending Bonang(solo)


3. SENI TARI
Solo memiliki beberapa tarian daerah seperti Bedhaya (Ketawang, Dorodasih, Sukoharjo, dll.) dan Srimpi (Gandakusuma dan Sangupati). Tarian ini masih dilestarikan di lingkungan Keraton Solo.
Ø  Tari Bedhaya Ketawang
Tari Bedhaya Ketawang adalah sebuah tari yang amat disakralkan dan hanya digelar dalam setahun sekali. Konon di dalamnya sang Ratu Kidul ikut menari sebagai tanda penghormatan kepada raja-raja penerus dinasti Mataram.
Perbendaharaan beksan (tarian) tradisi keraton Surakarta Hadiningrat terdiri dari berbagai ragam. Dilihat dari fungsinya, tarian itu bisa dibagi dalam 3 macam. Yaitu tari yang punya sifat magis religius, tari yang menggambarkan peperangan, dan tari yang mengandung cerita (drama).
Masing-masing tari tercipta karena ada sejarahnya yang dipengaruhi oleh suasana saat itu. Berbagai macam jenis tari yang diciptakan oleh pengramu keraton bukan asal buat, melainkan dipadu dengan masukan dari kalangan lelembut yang punya hubungan baik dengan keluarga keraton. Sehingga ada muatan mistis dan gaib. Tari yang punya sifat magis-religius ini, seperti Bedhaya biasanya diperagakan oleh kaum putri yang berjumlah 7 atau 9 orang, sedang yang diperagakan oleh 4 putri biasa disebut Tari Srimpi.

4. RAGAM HIAS
Ø  BATIK SOLO
Batik Solo atau Surakarta dikenal dengan motif sogan (coklat) di atas kain berwarna kuning pucat. Solo merupakan daerah dengan tradisi adat istiadat keraton yang kuat dan dahulu merupakan pusat kebudayaan Hindu Jawa. Hal tersebut mempengaruhi seni batik di Solo. Ragam hiasnya seperti meru, Naga dan burung bersifat simbolis, diterapkan pada kain sesuai artinya dalam falsafah Hindu Jawa. Ragam hias atau motif tersebut diciptakan bukan saja untuk keindahan, tapi juga dengan pesan dan harapan yang tulus akan kebaikan dan kebahagian bagi pemakainya.
Batik solo umumnya mengikuti tata cara atau peraturan yang antara lain menyangkut kedudukan sosial si pemakai dan untuk acara atau peristiwa apa batik tersebut digunakan agar sesuai dengan arti dan harapan yang terkandung dalam ragam hias tersebut.
Berikut adalah beberapa contoh makna dalam batik dari daerah Solo sesuai yang diungkapkan Nian S. Djoemena dalam bukunya "Ungkapan Sehelai Batik" :
a. Ragam hias slobog yang berarti agak besar, longgar atau lancar, dipakai untuk melayat, dengan harapan arwah yang meninggal diterima Tuhan YME tanpa kesukaran dan keluarganya penuh kesabaran. Motif ini juga kadang digunakan pamong dengan harapan semua tugasnya berjalan  lancar. 
b. Motif parang rusak barong, sawat dan kawung yang termasuk motif-motif Larangan dianggap sakral, karenanya dulu hanya boleh digunakan oleh raja-raja serta keluarga dekatnya. Walau motif ini telah menjadi milik masyarakat namun tata cara pemakaiannya masih diperhatikan dalam upacara adat resmi di kalangan keraton.
c. Motif satria manah digunakan oleh wali pria saat meminang, karena satria memanah tentunya selalu mengenai sasarannya, sehingga makna pemakaian motif ini adalah sebagai harapan lamaran sang pria diterima dengan baik oleh pihak wanita. Sementara dalam acara lamaran ini pihak wanita biasanya mengenakan ragam hias semen rante, dimana rante yang berarti rantai yang bermakna ikatan yang kokoh dan kuat. Ini dianggap sebagai keinginan pihak wanita agar hubungan mereka tidak terputus, kokoh dan kuat.
d. Motif madu bronto diserahkan sang pria pada acara seserahan untuk menyatakan isi hati serta perasaannya, dimana bronto berarti asmara, sehingga dapat diartikan asmara yang manis bagai madu.

e. Ragam hias parang kusuma dikenakan si gadis pada acara tukar cincin atau pertunangan, dimana kusuma berarti bunga yang telah mekar. Masih dalam acara yang sama ibu si gadis mengenakan batik motif pamilito yang berasal dari kata pulut atau ketan yang lengket, bermakna harapan ibu agar pasangan tersebut tidak terpisahkan lagi. Atau orang tua juga bisa mengenakan motif sekar jagad, sekar berarti kembang, sedangkan Jagad berarti alam semesta, yang melambangkan hati yang gembira karena putri atau putranya telah mendapat jodoh.
f. Pada acara siraman calon pengantin wanita mengenakan kain cita kembang atau polos, sedangkan orang tuanya mengenakan batik dengan motif cakar yang bermakna harapan akancalon penganti mampu berdikari. 
g. Pada malam midodareni, calon penganti wanita dengan kain cita kembang atau polos, sedangkan orang tuanya mengenakan kain batik denagn ragam hias bondet, kata yang berasal dari kata bundet yang berarti saling mengikat menjadi satu, tentunya merupakan harapan terhadap pernikahan putrinya. 
h. Ragam hias sido mukti, digunakan pengantin pria dan wanita dalam upacara perkawinan, karena Sido berarti terus menerus, sedangkan mukti berarti hidup bahagia dan berkecukupan. Ragam hias lain yang juga digunakan sepasang pengantin adalah sido asih yang bermakna agar hidup berumah tangga dalam kasih sayang, sido mulyo dimana mulya berarti mulia, dan sido luhur, dimana luhur berarti berbudi luhur. Masih untuk kehidupan perkawinan ada motif ratu ratih dan semen rama yang melambangkan kesetiaan seorang istri.
i. Sedangkan orang tua pengantin dalam upacara perkawinan menggunakan motif truntum yang artinya menuntun, dengan makna orang tua berniat menuntun kedua mempelai memasuki hidup baru berumah tangga. Ada juga motif sido wirasat, wirasat berarti nasihat, dengan makna orang tua akan memberi nasihat pada mempelai dalam menjalani hidup barunya.
j. Selesai upacara pernikahan, pasangan pengantin mengenakan kain batik dengan motif semen gendong yang merupakan perlambang harapan akan lekas dapat menggendong bayi. Ada juga motif babon angrem yang merupakan simbol ayam betina mengeram, yang bermakna harapan sang pengantin lekas mengandung.
k. Ragam hias truntum juga memiliki makna cinta yang bersemi, dan ada sebuah kisah yang melatarbelakangi kisah ini. Kisah tersebut adalah tentang sang ratu yang sedih karena merasa dilupakan sang raja yang memiliki kekasih baru, untuk melupakan kesedihannya sang ratu membatik dan secara tidak sadar membuat ragam hias berbentuk bintang-bintang di langit yang kelam yang menemaninya dalam kesepian. Ketekunan Sang Ratu menarik perhatian sang raja, dan kemudian raja terus mengikuti perkembangan pembatikan sang ratu, sehingga sedikit demi sedikit cinta dan kasih sayang sang raja kepada sang ratu bersemi kembali atau tum-tum kembali.
l. Ragam hias alas-alasan berarti hutan adalah lambang kesuburan atau kemakmuran. Motif ini biasanya digunakan pada upacara adat dan acara resmi.
m. Ragam hias pari seuli yang berarti padi setangkai, yang bermakna harapan si pemakai mendapat limpahan rejeki serta makmur. 
Di samping batik-batik bermotif simbolik tersebut di atas, Solo juga memiliki ragam hias yang bersifat naturalistik mengambil motif tentang alam pedesaan, seperti sekar suruh atau kembang sirih, dan Piring Sedapur yang berarti bambu serumpun.
Kain batik Cina di daerah Solo mempunyai gaya ragam hias tersendiri, umumnya menggunakan ragam hias buketan dengan pinggiran hiasan kembang dengan latar motif parang atau kawung dengan dasar putih kecoklatan
5. KESENIAN
Ø  LAGU KERONCONG
Keroncong merupakan nama dari instrumen musik sejenis ukulele dan juga sebagai nama dari jenis musik khas Indonesia yang menggunakan instrumen musik keroncong, flute, dan seorang penyanyi wanita.
Banyak penyanyi lagu daerah asal kota solo yang namanya sangat terkenal diantanya Gesang dengan lagunya yg berjudul Bengawan Solo dan Waljinah dengan lagu Walang Keke
6. PAKAIAN DAERAH
Jenis busana dan kelengkapannya yang dipakai oleh kalangan wanita Jawa, khususnya di lingkungan budaya Yogyakarta dan Surakarta, Jawa Tengah adalah baju kebaya, kemben dankain tapih pinjung dengan stagen. Baju kebaya dikenakan oleh kalangan wanita bangsawan maupun kalangan rakyat biasa baik sebagai busana sehari-hari maupun pakaian upacara. Pada busana upacara seperti yang dipakai oleh seoranggarwo dalem misalnya, baju kebaya menggunakan peniti renteng dipadukan dengan kain sinjang atau jarik corak batik, bagian kepala rambutnya digelung (sanggul), dan dilengkapi dengan perhiasan yang dipakai seperti subang, cincin, kalung dan gelang serta kipas biasanya tidak ketinggalan. Untuk busana sehari-hari umumnya wanita Jawa cukup memakaikemben yang dipadukan dengan stagen dan kain jarik. Kemben dipakai untuk menutupi payudara, ketiak dan punggung, sebab kain kemben ini cukup lebar dan panjang. Sedangkan stagendililitkan pada bagian perut untuk mengikat tapihan pinjung agar kuat dan tidak mudah lepas.

7. BENDA SENI/ KARYA SENI
Ø  KERIS
Keris adalah senjata tikam golongan belati (berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya) dengan banyak fungsi budaya yang dikenal di kawasanNusantara bagian barat dan tengah. Bentuknya khas dan mudah dibedakan dari senjata tajam lainnya karena tidak simetris di bagian pangkal yang melebar, seringkali bilahnya berliku-liku, dan banyak di antaranya memiliki pamor (damascene), yaitu guratan-guratan logam cerah pada helai bilah. Jenis senjata tikam yang memiliki kemiripan dengan keris ad
Penggunaan keris tersebar pada masyarakat penghuni wilayah yang pernah terpengaruh oleh Majapahit, seperti Jawa, Madura, Nusa Tenggara, Sumatera, pesisir Kalimantan, sebagian Sulawesi, Semenanjung Malaya, Thailand Selatan, dan Filipina Selatan (Mindanao). Keris Mindanao dikenal sebagai kalis. Keris di setiap daerah memiliki kekhasan sendiri-sendiri dalam penampilan, fungsi, teknik garapan, serta peristilahan.
Keris Indonesia telah terdaftar di UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia Non-Bendawi Manusia sejak alah badik. Senjata tikam lain asli Nusantara adalah kerambit.
Pada masa lalu keris berfungsi sebagai senjata dalam duel/peperangan sekaligus sebagai benda pelengkap sesajian. Pada penggunaan masa kini, keris lebih merupakan benda aksesori (ageman) dalam berbusana, memiliki sejumlah simbol budaya, atau menjadi benda koleksi yang dinilai dari segi estetikanya.
 2005.
C. PENUTUP
a. kesimpulan
            Adat Istiadat adalah aneka kelaziman dalam suatu negeri yang mengikuti pasang naik dan pasang surut situasi masyarakat. Salah satu adat istiadat di Indonesia adalah adat istiadat Solo. Rumah adat dalam adat istiadat Solo adalah Rumah Joglo selain rumah adat ada juga alat music Gamelan yang identik dengan adat istiadat Solo.
            Batik merupakan salah satu ragam hias yang terkenal dalam adat istiadat solo, sedangkan dalam kesenian ada music keroncong. Dalam adat istiadat solo ada beberapa pakaian daerah yang sering di pakai oleh warga solo dan sekitarnya diantaranya adalah baju kebaya, kemben dankain tapih pinjung dengan stagen. Keris merupakan salah satu benda seni atau karya seni dalam adat istiadat solo.
b. saran-saran
            Saran saya dalam menanggapi masalah yang terjadi dalam adat istiadat solo adalah kita sebagai generasi muda sebagai  penerus bangsa harus berusaha mempertahankan dan mengembangkan budaya dan adat istiadatnya di tengah gempuran era globalisasi yang memicu generasi masa kini melupakan adat istiadatnya. Dalam hal ini pemerintah juga tidak boleh lepas tangan menangapi hal ini, peran serta pemerintah setempat sangat mempengaruhi dalam pembentukan karakter anak muda yang tidak lupa dengan adat istiadatnya.
















E. DAFTAR PUSTAKA
Ø  SUMBER


0 komentar:

Poskan Komentar